Pengalaman MUKISI dalam penerapan Rumah Sakit Syariah

16 November 2016 Baca 2813 kali Admin
Pengalaman Mukisi dalam Penerapan Rs Syariah Pengalaman Mukisi dalam Penerapan Rs Syariah Pengalaman Mukisi dalam Penerapan Rs Syariah

Pengalaman MUKISI dalam penerapan Rumah Sakit Syariah

 

Oleh : dr. H. MASYHUDI AM, M.Kes.

KETUA UMUM MUKISI

 

Pentingya Standarisasi Rumah Sakit Islam  

            Perkembangan rumah sakit Islam di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifkan. Kondisi  ini menunjukkan bahwa ghirah umat untuk  mencari  pengobatan di rumah sakit  yang Islami  semakin kuat, dan hal ini menjadi indicator akan  tingginya kesadaran umat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan  dalam keberkahan

            Issue tentang pelayanan sesuai prinsip syariah di rumah sakit Islam menjadi issue  penting  bagi keberadaan rumah sakit Islam.  Sampai saat ini belum ada standar atau pedoman  untuk menilai dan mengukur  kualitas rumah sakit Islam dari sisi  penerapan syariah Islam. Sementara pada issue perumahsakitan secara umum  telah ada standar untuk mengukur mutu rumah sakit melalui akreditasi baik dari lembaga akreditasi Nasional (KARS) maupun akreditasi internasional (JCI).

            Oleh karenanya diperlukan suatu standar atau pedoman bagi rumah sakit Islam dalam menerapkan, mengukur dan menilai kualitas pelayanan  dan pengelolaan manajemen rumah sakit  sesuai prinsip syariah  Islam, sehingga rumah sakit Islam dapat memberikan jaminan akan adanya pelayanan sesuai syariah, penyelamatan akidah Islam dan penerapan manajemen  berbasisi syariah.   

            Sertifikasi  Rumah Sakit Syariah memberi peluang dan harapan bagi penyelenggara pelayanan kesehatan dan masyarakat (umat) untuk meningkatkan mutu  dan keselamatan pasien dalam perspektif  fisik, psikis dan spiritual serta dakwah  dalam kerangka pengembangan peradaban Islam.

MUKISI sebagai  Pengagas Sertifikasi Rumah Sakit Syariah dan perjalanannya  menuju Sertifikasi RS Syariah

Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia ( MUKISI )  merupakan   wadah yang menghimpun penyelenggara sarana kesehatan Islam dan perorangan yang mempunyai keahlian dan minat untuk mengembangkan upaya kesehatan yang Islami. MUKISI  didirikan pada tanggal 12 Juli 1994 di Yogyakarta dan dideklarasikan  pada tanggal 1 Oktober 1994 di Ciloto Jawa Barat. Tujuan pendirian MUKISI adalah  1) Mewujudkan dan meningkatkan mutu penyelenggara dan pelaksana upaya kesehatan yang profesional dan Islami 2). Membina, mengembangkan dan meningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia anggota dan 3). ikut berperan serta dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Komitmen MUKISI untuk meningkatkan mutu penyelenggara pelayanan kesehatan (rumah sakit dan klinik)  secara profesional dan Islami  mendorong MUKISI memulai kajian dan pembahaan tentang konsep rumah sakit Islami yang kemudian menjadi konsep rumah sakit syariah. Gagasan tentang Konsep Rumah Sakit Syariah dimulai dengan penyelenggaran berbagai kegiatan MUKISI :

  1. Rakernas MUKISI di Jawa Timur (Tahun 2009) dengan tema Rakernas  “ Menuju kesempurnaan Rumah Sakit Islam dalam pelaksanaan Syariah. Dalam pertemuan ini disepakati untuk penyusunan konsep syariah di rumah sakit yaitu MUKISI Jawa Barat untuk konsep sumber daya Insani, MUKISI Jawa Tengah untuk konsep pemasaran syariah, MUKISI  Jogja untuk konsep keuangan dan MUKISI Jawa Timur untuk konsep sarana dan prasarana.
  2. Rakernas MUKISI di Tangerang Banten (Tahun 2012) dengan tema   “Meningkatkan mutu melalui Standarisasi  Pelayanan Islami dan Keselamatan Pasien”. Dalam pertemuan ini disampaikan paparan mengenai konsep syariah yang telah disusun oleh MUKISI masing –masing Daerah sebagai tindak lanjut dari Rakernas sebelumnya.
  3. Pertemuan Nasional MUKISI di Bandung (Tahun 2015), dengan tema “ Rumah Sakit Syariah dengan Akreditasi Dalam Menghadapi Era Jaminan Kesehatan Nasional”. Dalam pertemuan ini dipaparkan konsep Akreditasi Rumah Sakit Syariah oleh MUKISI Jawa Tengah, dan disepakati  draft  awal  akreditasi rumah sakit  yang  kemudian dilanjutkan dengan pembahasan finalisasi konsep oleh perwakilan MUKISI Daerah. Pada kesempatan pertemuan ini juga disepakati  penggunaan Sertifikasi  untuk rumah sakit syariah  yang implikasinya pada badan yang akan memberikan sertifikasi adalah Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia ( DSN – MUI)
  4. Pertemuan Finalisasi Konsep Sertifikasi Rumah Sakit Syariah, Dalam pertemuan ini dibahas konsep sertifikasi beserta instrument dan tata cara penilaian untuk rumah standar rumah sakit syariah.
  5. Pertemuan dengan Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yaitu lembaga yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk melakukan penilaian akreditasi rumah sakit di Indonesia. Hasil pertemuan dengan KARS merekomendasikan konsep Sertifikasi Rumah Sakit Syariah beserta instrument penilaiannya untuk dijadikan tambahan atau peniaian pendukung bagi rumah sakit Islam/berbasis syariah yang pelaksanaanya  dilakukan oleh DSN-MUI. Pertemuan ini juga merekomendasikan agar rumah sakit yang  dapat dilakukan  Sertifikasi adalah rumah sakit yang telah diakreditasi oleh KARS, artinya Rumah  Sakit Syariah adalah rumah sakit yang telah memenuhi  standar  mutu dan keselamatan pasien yang disyaratkan oleh Pemerintah.
  6. Uji coba Sertifikasi Rumah Sakit Syariah.  Uji coba sertifikasi dilaksanakan untuk memastikan standard dan instrument penilaian dalam Sertifikasi Rumah Sakit Syariah mampu dilaksanakan diberbagai jenis atau kelas rumah sakit. Pada uji coba dipillih 2 (dua) rumah sakit yang telah terakreditasi oleh KARS yaitu Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang mewakili rumah sakit kelas B – Pendidikan  dan Rumah Sakit  Nur Hidayah Bantul Jogjakarta mewakili  rumah sakit kelas D.  Penilaian uji coba dilaksanakan oleh Perwakilan MUKISI Daerah ( 29 orang ) dengan terlebih dahulu diberikan  pelatihan bersama sebagai Asessor  Sertifikasi Rumah Sakit Syariah yang dilaksanakan di Semarang.

Hasil  uji coba  Sertifikasi Rumah Sakit Syariah menunjukkan nilai yang sangat signifikan yaitu  MUMTAZ, kategori nilai tertinggi untuk 3 macam kategori penilaian yang ada yaitu Jiddan, Jazid Jiddan dan MUMTAZ.

  1. FIMA Meeting di Makassar dan  Launching  Draft  Sertifikasi Rumah Sakit  Pada pertemuan ini dilakukan sosialisasi  dengan Launching  buku Sertifikasi Rumah Sakit Syariah  yang  akan dijadikan sebagai standar dalam penilaian rumah sakit syariah.
  2. Pertemuan Konsinyering bersama Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia ( DSN-MUI) di Bogor. Draft  Sertifikasi Rumah Sakit Syariah selanjutnya dibahas secara detail bersama dengan DSN – MUI.
  3. Musyarawah Kerja Nasional MUKISI di Jakarta, pada pertemuan ini disampaikan keynote speech    mengenai  Setifikasi Rumah  Sakit Syariah dan Draft Fatwa DSN-MUI  tentang Penyelenggaraan Rumah Sakit Syariah oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia.
  4. Pertemuan pembahasan finalisasi Fatwa MUI bersama DSN MUI di Bogor yang akan dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2016

Penyusunan Standar dalam Sertifikasi Rumah Sakit Syariah

Rumah Sakit Syariah adalah rumah sakit yang seluruh aktivitasnya berdasar pada Maqashid – al Syariah – al Islamiyah. Hal ini sesuai dengan konsep maqashid syariah menurut Imam Syatibi yaitu  memelihara Agama (khifdz ad-diin), memelihara Jiwa (khifdz an-nafs), memelihara Keturunan (khifdz an-nasl), memelihara Akal (khifdz al-aql), dan memelihara Harta (khifdz al-mal).  Dalam  penyusunan Standar Sertifikasi Rumah Sakit Syariah mengacu pada standar akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit yang  kemudian ditambahan unsur – unsure syariah di dalamnya.

Standar dalam  Sertifikasi Rumah Sakit Syariah  terdiri dari  5 Bab dengan 50 Standar dan 161  elemen penilaian yang dibagi sebagai berikut :

No

Bab

Standar

Elemen Penilaian

1

Hifz  Al – Din

32

108

2

Hifz  Al – Nafs

6

17

3

Hifz  Al – Aql

6

18

4

Hifz  Al Nasl

2

7

5

Hifz  Al – Maal

4

11

           

 

 Standar  dalam Sertifikasi Rumah Sakit Syariah

            Dalam Sertifikasi Rumah Sakit Syariah  edisi 1437 H, pada masing – masing  bab dibagi kedalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok Standar yang mengatur pada aspek manejemen dan  kelompok standar yang mengatur pada aspek pelayanan rumah sakit syariah. Standar Syariah dalam aspek manajemen  meliputi penilaian  tentang :

  1. Standar Syariah Manejemen Organisasi (SSMO) :

Standar ini  berisi tentang tanggung jawab dan akuntabilitas pemilik rumah sakit dalam pengelolaan rumah sakit, yang dibuktikan dengan adanya ijin operasional rumah sakit, struktur organisasi yang memuat Dewan Pengawas Syariah ( DPS) ditingkat Pemilik, dan Komite Syariah di tingkat rumah sakit, bidang kerohanian dirumah sakit, lembaga ketakmiran, lembaga zakat infaq shodaqoh berikut program dan pertanggungjawaban ZIS.  Pada standar ini juga dinilai  tentang visi yang memuat kata Islam didalamnya, kebijakan Pemilik tentang sumber pendanaan yaitu pendanaan  bersumber dari  pendanaan halal, termasuk jika bekerjasama dengan lembaga keuangan, maka harus dipastikan ada dokumen kerja sama dengan lembaga keuangan syariah, dan kode etik rumah sakit syariah.

 

  1. Standar Syariah Modal Insani (SSMI )

Standar ini berisi tentang tata kelola sumber daya insane (manusia) dari pengadaan , pemeliharaan  sampai dengan pemutusan hubungan kerja dengan pegawai, termasuk pengukuran kinerja melalui Key Performance Indicator pegawai. Standar ini juga menilai tentang bagaimana pendidikan dan pelatihan pegawai melalui program training yang bersifat wajib untuk seluruh staf dengan muatan kurikulum keagamaan, panduan pendampingan spiritual, prosedur mengingatkan sholat, prosedur membimbing do`a pre operasi, prosedur bimbingan tayamum, prosedur bimbingan sholat, prosedur pendampingan visit dokter

 

  1. Standar Syariah Manajemen Pemasaran (SSMP)

Standar ini berisi tentang tata kelola pemasaran rumah sakit dan promosi rumah sakit sesuai dengan etika promosi. Standar ini akan memastikan rumah sakit tidak melakukan rishwah, markup dan melakukan kegiatan promosi yang bertentangan dengan syariah Islam.

 

  1. Standar Syariah Manajemen Akuntansi dan Keuangan (SSMAK)

Standar ini berisi tentang tata kelola keuangan dan akuntansi rumah sakit berbasis syariah, diawali dari proses perencanaan penyusunan rencana kerja dan anggaran, pentarifan, penggunaan akad dalam transaksi, pencatatan sesuai kaidah akuntansi syariah, kerja sama dengan lembaga perbankan dan keuangan syariah, alokasi zakat infaq dan shodaqoh institusi dan pegawai, dan pengelolaan piutang tidak tertagih.

 

  1. Standar Syariah Manajemen Fasilitas (SSMF)

Standar ini berisi tentang penyediaan fasilitas Rumah sakit menerapkan standarisasi fasilitas yang sesuai kaidah syariah meliputi  standarisasi ruang perawatan sesuai kaidah syariah, pengelolaan channel TV sesuai kaidah syariah, pengaturan bangsal sesuai gender, penataan dan perawatan kamar mandi standar syariah, hasil pemeriksaan air minum dari MUI – Halal,  menyediakan sarana ibadah yang memadai,  mengelola dapur halal sesuai kaidah syariah

 

  1. Standar Syariah Manajemen Mutu (SSMM)

Standar ini berisi  penilaian Kebijakan  dan  Pedoman  Mutu  tentang  pemeliharaan  aqidah,  ibadah,  akhlak  dan  muamalah  melalui  aktivitas  keagamaan, tercantum pada indikator mutu utama unit kerja/rumah sakit, Standar Pelayanan Syariah ( Standar pelayanan minimal Rumah Sakit Syari’ah), Islamic library of measures (indikator mutu Islami yang wajib ada di Rumah sakit Islam),  Pencatatan dan pelaporan indikator mutu syariah,    Analisis pelaporan,    Design and redesign hasil  analisis serta kajian tentang program Islamisasi rumah sakit. Beberpa contoh indicator mutu diantaranya adalah pemasangan DC sesuai gender, penggunaan baju khusus untuk ibu menyusui dan penggunaan hijab.

 

Sedangkan Standar Syariah dalam aspek pelayanan meliputi penilaian tentang :

  1. Standar Syariah Akses pelayanan dan kontinuitas (SSAPK)

Standar ini berisi tentang Proses  penerimaan,  bimbingan  dan  pemulangan  pasien  dipastikan  telah  mendapatkan  pelayanan  psikospiritual  termasuk  Buku   Bimbingan Kerohanian. Penyediaan transportasi yang mendukung pelayanan berbasis syariah ( audio murrotal )

 

  1. Standar Syariah Asesmen Pasien (SSAP)

Standar ini berisi tentang  assesmen  awal secara komprehensif terhadap  kondisi medis-spiritual  pasien. Assesmen medis dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatannya, sedangkan assesmen psikospiritual dilakukan melalui pendekatan keagamaan pasien (contoh: aktifitas keagamaan, rutinitas ibadah), Standar ini mensyaratkan rumah sakit menetapkan kebijakan tentang kompetensi pelayanan  bahwa staf Rumah Sakit memiliki kompetensi dalam hal fikih orang sakit.

 

  1. Standar Syariah Pelayanan Pasien (SSPP)

Standar ini berisi tentang pelayanan Psikospiritual bagi berbagai variasi kebutuhan pelayanan kesehatan. Pasien yang digolongkan risiko-tinggi, kondisi, atau kebutuhan yang bersifat kritis, maka rumah sakit memberikan pendampingan bimbingan psikosipritual secara khusus., menyediakan pelayanan ruqyah syar’iyah pada kasus yang dinilai membutuhkan,  melakukan penjagaan pada aurat pasien, ikhtilath dan kholwat,   Pemakaian Busana Menyusui,    Pemakaian Busana Pasien,   Prosedur pemeriksaan pasien sesuai jenis kelamin,   Prosedur pemeriksaan pasien tanpa ikhtilath.

Standar ini mengatur pula  tentang  penyiapan bahan makanan, penyimpanan, pengolahan dan distribusi harus dimonitor untuk memastikan kehalalan, higienitas, dan keamanan sesuai peraturan perundang-undangan dan Syari'ah Islam. Semua jenis bahan dan makanan dipastikan bersertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia.

 

  1. Standar Syariah Pelayanan Obat  (SSPO)

Standar ini berisi  tentang Penerapan konsep obat esensial di rumah sakit yang berisi daftar obat, sediaan-sediaan obat yang terpilih dan terapi yang digunakan di rumah sakit tidak mengandung unsur bahan yang diharamkan. Dalam kondisi tidak ada pilihan lain, unsur bahan yang diharamkan dapat digunakan karena termasuk kondisi darurat dan pemberian ke pasien menggunakan informed concent.

 

  1. Standar Syariah Pelayanan dan Bimbingan Kerohanian (SSPBK)

Standar ini berisi tentang pemberian pelayanan pendampingan rohani kepada seluruh pasien yang beragama islam, dan kepada pasien yang mempunyai permintaan khusus. Standar ini juga berisi tentang Pelaksanaan identifikasi nilai-nilai islami dan  penerapannya, Kebijakan dan prosedur tentang identifikasi nilai-nilai islam dalam pelayanan pasien, penatalaksanaan nyeri , pelayanan pada akhir kehidupan secara syariah,  prosedur pelayanan sakaratul maut dan  penyediaan pelayanan jenazah secara syariah, Prosedur tata laksana pengawetan jenazah serta regulasi pengelolaan sampah sisa jaringan tubuh manusia secara syariah dan Pengadaan sumber air sesuai dengan kaidah syariah

 

  1. Standar Syariah Pendidikan Pasien dan Keluarga (SSPPK)

Standar ini berisi tentang kewajiban Rumah Sakit melakukan pendidikan terhadap pasien rawat inap atau keluarga mengenai asuhan spiritual yang akan diterima selama perawatan sebagai bahan evaluasi perkembangan kondisi spiritual pasien, Rumah sakit menyediakan dan mengelola perpustakaan yang memuat literatur islam, Prosedur peminjaman buku perpustakaan oleh pasien dan keluarga.

 

  1. Standar Syariah Pencegahan dan Pengendalian infeksi (SSPPI)

Standar ini berisi tentang kewajiban rumah sakit  memiliki  program  pencegahan  dan  pengendalian  infeksi  berdasarkan  pada  ilmu  pengetahuan  terkini  sesuai  dengan peraturan perundangan yang berlaku dan standar sasaniitasi serta kebersihan sesuai dengan syari’ah.

 

 

Peluang, Tantangan dan harapan  Penerapan Sertifikasi Rumah Sakit Syariah

Sertifikasi Rumah  Sakit  Syariah memberikan peluang bagi  rumah sakit  Islam sebagai  diferensiasi (pembeda) pelayanan yang khas menempatkan manusia pada posisi yang sangat tinggi sebagai hamba Allah sekaligus menjadi jalan jihad dalam menegakkan syariah Islam. Tantangan dalam penerapan sertifikasi rumah sakit syariah adalah komitmen dari seluruh stake holder rumah sakit untuk istiqomah mengupayakan standar dalam sertifikasi rumah sakit syariah bukan sekedar memenuhi standar tetapi jauh dari pada itu merupakan panggilan suci untuk beribadah kepada Allah melalui pelayanan kesehatan. Harapan dalam penerapan Sertifikasi Rumah Sakit Syariah adalah segera disetujuinya Sertifikasi Rumah Sakit Syariah edisi 1436 Hijriah sebagai pedoman bagi  rumah sakit Islam untuk ditegakkanya prinsip syariah didalam pelayanan dan manejemen rumah sakit. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Temukan kami

Sekretariat MUKISI

  • Jl. Cempaka Putih Tengah VI No. 12, Gedung Dana Pensiun RSIJ Cempaka Putih, Jakarta Pusat
  • 021 4226065, 4250451 Ext 366/369
  • 021 4226065
  • mukisipusat@yahoo.co.id

© 2017 Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia