Rumah Sakit Syariah Semakin Menggema, kini RS Nur Hidayah Bantul Raih Sertifikasi Rumah Sakit Syariah

22 September 2017 Baca 241 kali Rifaldi Majid

Rumah Sakit Syariah semakin Menggema, Kini RS Nur Hidayah Bantul raih Sertifikasi Rumah Sakit Syariah

Perlahan tapi pasti, kesadaran kaum muslimin terhadap pemenuhan kebutuhan di bidang kesehatan yang sesuai dengan tuntunan syariat semakin nampak terlihat. Menjamurnya rumah sakit Islam di Indonesia menjadi satu bukti nyata fokus dan keprihatinan terhadap pemenuhan kebutuhan di bidang ini. Hal ini yang juga menggerakkan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) untuk berkolaborasi dengan Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam merumuskan konsep, standar, nilai, instrumen rumah sakit syariah secara terstruktur yang legal dan formal. Buahnya adalah terbitnya fatwa Majelis Ulama Indonesia NO: l07/DSN-MUIIX/2016 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah. Disamping itu, MUKISI juga menerbitkan standar dan instrumen rumah sakit syariah versi 1438 H sebagai panduan menuju penyelenggaraan rumah sakit dengan prinsip syariah.

Pada Rabu, 29 Dzulhijjah 1438H yang bertepatan dengan 21 September 2017, di penghujung tahun hijriah ini, RS Nur Hidayah Bantul mencatatkan namanya sebagai Rumah Sakit Syariah. Hal ini diikuti dengan pemberian sertifikat kategori Rumah Sakit Syariah dari institusi berwenang yaitu DSN-MUI secara resmi. Sebelumnya, pada 1 Dzulhijjah 1438 H atau yang bertepatan dengan 23 Agustus 2017, RSI Sultan Agung telah menerimanya terlebih dahulu. Kedua rumah sakit ini adalah hasil dari Pilot Project Rumah Sakit Syariah yang dicanangkan pada 2016 lalu.

Ketua Yayasan Nur Hidayah Bantul, Dr. Sagiran menyatakan bahwa upaya menjadi RS Syariah ini bersamaan dengan RSI Sultan Agung Semarang saat dicanangkan menjadi Pilot Project pada tahun 2016.
“Di tahun 2017 ini, baru secara formal Sertifikat ini diberikan kepada kami oleh DSN-MUI. Beliau melanjutkan bahwa motivasi Rumah sakitnya untuk disertifikasi Syariah yaitu untuk membawa perjalanan usaha rumah sakit meraih implikasi dunia dan akhirat untuk karyawan, pemilik, dan utamanya pasien”
“Orientasi kami bukan hanya sekedar “Patient Safety” semata, namun “Safety” dimaksud mencakup safety kesembuhan dan safety penghambaan kepada Allah” Terangnya.

Dr. Sagiran menerangkan bahwa,
“Pada prinsipnya, Islam itu lengkap dan menyeluruh, meliputi segalanya. Islam tidak hanya membahas satu hal atau satu aspek atau bidang saja. Demikian pula dengan pelaksanaan di rumah sakit lain, pada dasarnya sama dengan apa yang dilakukan di rumah sakit Nur Hidayah. Namun, semua aktivitas di rumah sakit kami, kami celupkan dengan celupan “syariah”, mulai dari perilaku karyawan, manajemen keuangan, pelayanan, pengadaan obat-obatan, makanan yang meliputi pengadaan hingga penyajian semuanya berdasar atas prinsip syariah”
“Tidak hanya itu, khusus untuk pengobatan Islam yang sekarang ini terlihat “dipinggirkan”, justru akan kami galakkan, bahkan bisa menjadi pilihan utama kepada pasien. Contoh sederhana, doa itu kan obat. Dengan doa yang lebih ikhlas, intens, lebih khusyu’ lagi, bisa jadi Allah sembuhkan sebelum diberikan pengobatan yang super mahal, super dosis, atau super invasif lagi. Semuanya kami usahakan, doa dan juga upaya medis”. Terangnya.

Manajemen dan Pelayanan syariah di rumah sakit menjadi dua kelompok cakupan besar yang menjadi poin penilaian. Setiap poin demi poin diaplikasikan di RS Nur Hidayah Bantul. Terkait ini, Dr. Sagiran menjelaskan bahwa aspek manajemen dan pelayanan harus diaplikasikan berdasar nilai dan prinsip-prinsip syariah.
“Misal sebagai contoh untuk bidang manajemen, maka semua aspek harus memenuhi, seperti Pemilik yang muslim, direksi yang muslim, pengelolaan keuangan yang secara syariah, dan lain-lain. Untuk aspek pelayanan juga misalnya, semua harus atas dasar prinsip syariah. Sebagai contoh bahwa, obat, makanan, jarum suntik di rumah sakit manapun sama. Tapi semua itu dilakukan dengan adanya “Fully Alert” bahwa kita Hamba Allah, semua itu hanya wasilah semata, kita memohon kesembuhan hanya kepada Allah. Semua ini kita pratekkan di rawat inap, rawat jalan, IGD, kamar bersalin, ruang operasi dan terkhusus pada rodi jenazah semua harus memperhatikan prinsip syariah” Terangnya.

Keuntungan lain yang diperoleh dengan pemberlakuan prinsip syariah di rumah sakit adalah meningkatnya nilai tambah, tidak ada pelayanan yang terkurangi, bahkan hal-hal yang mubadzir atau terlarang bisa dihilangkan.
Sebagai contohnya Dr. Sagiran menceritakan pernah terjadi, ada pasien yang datang bersama keluarga dan “orang pintar”. Si “orang pintar” ini membawa minyak-minyak khusus dan melakukan ritual-ritual seperti membakar dupa, dan lain-lain untuk kesembuhan si pasien yang ditanganinya. Nah, hal semacam ini tidak boleh terjadi. Ritual-ritual yang mengandung unsur kemusyrikan ini tidak boleh ada di rumah sakit.

Beliau menambahkan bahwa di Rumah sakit Nur Hidayah Bantul terdapat beberapa program unggulan yang sangat dibutukan masyarakat.
“kami punya program Khitan Putri. Khitan putri ini Sunnah Rasul yang mulai ditinggalkan. Nah, di Nur Hidayah Bantul kami berusaha menghidupkan Sunnah Rasul ini. Kami juga punya layanan Ruqyah Syar’iyyah, Khitan Center dengan berbagai jenis metode, fasilitas, dan keunggulan lainnya.

Prinsip syariah bukan hanya diupayakan melalui program dan layanan, namun juga pengembangan Sumber daya Insani sebagai pelakunya. Dr. Sagiran menjelaskan bahwa di rumah sakitnya dibangun nilai-nilai Islam sebagai bekal utama.
“Kami memiliki Jargon bersama sebagai pelejit semangat bekerja sekaligus beribadah. Jargon kami yaitu “Kerjaku, Ibadahku. Imbalanku, Pahalaku”. Dimana-mana orang kerja ya pengennya dapat gaji, tapi banyak-sedikit ternyata tidak berkorelasi lurus dengan kebahagiaan. Yang akan berkorelasi lurus itu ketika kita berharap pahala dari-Nya. Bahkan dengan sekadar menjenguk orang sakit, 70.000 malaikat akan berdoa kepada kita. Sepertinya kita lebih memilih itu, dari pada sekadar dapat imbalan gaji. Kalimat-kalimat ini yang menjadi penyemangat untuk membangkitkan etos kerja semua lini di RS Nur Hidayah Bantul.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin tidak akan menyusahkan hamba-Nya untuk melaksanakan syariat-Nya. Pelaksanaaan prinsip syariah di rumah sakit, bukanlah hal yang sulit adanya. Dr. Sagiran yang juga adalah ketua Divisi Sertifikasi Rumah Sakit Sayriah MUKISI menyatakan bahwa meraih sertifikasi rumah skait Syariah bukanlah hal yang sulit, sebagaimana yang mungkin telah menjadi “stigma” sulit karena perlunya melengkapi ratusan dokumen dan poin-poin persyaratan.
“Islam itu indah, Islam itu mudah, jadi mari bersyariah. Tidak ada yang sulit. Jika syariah yang bicara semuanya menjadi mudah, indah, semua pasti bisa. Elemen-elemen penilaian di rumah sakit syariah itu hanya 175 sedangkan di Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) itu sampai ribuan. Lebih banyak yang mana coba?”.

Beliau mengajak rumah sakit lain untuk jangan lama menunggu mempraktikkan prinsip syariah di rumah sakit. “Ayo, jangan lama menunggu, jangan tunggu nanti, sekarang waktunya, ayo bersyariah di rumah sakit” ajaknya.

Semoga dengan diterimanya Sertifikasi rumah sakit Syariah oleh RS Nur Hidayah Bantul ini menjadi penyemangat khusus untuk semua rumah sakit dalam berlomba mempraktikkan prinsip syariah di Rumah sakit. RSI Sultan Agung Semarang dan RS Nur Hidayah Bantul telah membuktikanya. Mari bersyariat sesuai dengan apa yang disyariatkan, menjalankan secara ihhlas dengan contoh dan teladan yang dipraktekkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Bangkitkan Rumah Sakit Syariah di Nusantara!

 

 

Temukan kami

Sekretariat MUKISI

  • Jl. Cempaka Putih Tengah VI No. 12, Gedung Dana Pensiun RSIJ Cempaka Putih, Jakarta Pusat
  • 021 4226065, 4250451 Ext 366/369
  • 021 4226065
  • mukisipusat@yahoo.co.id

© 2017 Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia